Menguak Hidup Jurnalis Fashion Indonesia

1 Sep

Banyak yang beranggapan bahwa menjadi fashion journalist adalah profesi yang ‘wah’. Mereka menganggap bahwa pekerjaan ini penuh dengan gegap gempita keriaan dan glamoritas. Padahal tidak melulu begitu.

Di lain sisi, tidak sedikit dari pelaku profesi ini juga kerap kali ‘menggampangkan’ posisi ini. Asalkan punya modal gaya, dan juga barang2 branded penunjang, maka sudah cukuplah menjadi seorang fashion journalist atau fashion editor. Padahal mestinya jelas tidak begitu.

Film bertajuk “Fashion 1 Hari” karya Syahmedi Dean, pengamat mode Indonesia yang telah lama malang melintang dalam dunia fashion ini
seakan ingin ‘menyentil’ masalah tersebut. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan untuk menonton 1st preview film ini untuk para fashion journalist Indonesia di gedung BEJ. Film semi dokumenter berdurasi 38 menit ini bercerita tentang kegiatan yang terjadi di suatu hari dalam sebuah majalah fashion beranama MAGA.

Cerita yang sarat akan sindiran, sekaligus menggambarkan sebuah kenyataan ini dibintangi oleh beberapa pelaku fashion Indonesia, salah satunya adalah Samuel Mulia. Ia berperan sebagai Editor In Chief majalah MAGA yang bitchy, cerewet, ‘madam’, kurang bisa menghargai orang lain, tapi sebenarnya dia memiliki prinsip-prinsip dan idealisme yang kuat untuk majalahnya. Dalam majalah itu ada Dewi Utari, Fitria Jusuf dan Andreas Odang yang berperan sebagai fashion editor dengan segala kelakuan yang ajaib. Ada yang anak orang kaya yang manja, ada yang super bitchy, ada juga yang gayanya urakan dan asal.

Keseharian yang tergambar dalam film ini memang benar adanya kenyataan kerja dalam sebuah majalah fashion. Dimana terjadi hiruk pikuk, deadline, bitchiness, dan berbagai perubahan jadwal dan keputusan yang mendadak. Situasi yang nyata yang tergambar dalam tersebut tampaknya memang pengalaman pribadi para jurnalis, atau mantan jurnalis mode Indonesia dalam film Fashion 1 Hari ini.

Film yang akan diputar secara gratis di berbagai kampus dan komunitas film ini memang tidak ada salahnya untuk ditonton. Lumayan untuk memberikan gambaran tentang kehidupan kerja di majalah fashion bagi Anda yang penasaran. Dan untuk para wartawan mode, mudah-mudahan hal baiknya dapat diserap, dan hal buruknya bisa jadikan kaca untuk kedepannya diperbaiki.

Sebagai wartawan mode saya sepakat bahwa kita harus bisa lebih berani bersikap dan menyatakan pendapat. Jangan hanya mengikuti arus yang ada, namun harus juga dapat berdiplomasi dengan baik terhadap semua pihak. Dan satu lagi, seperti yang ditekankan Samuel Mulia di film ini, para wartawan mode hendaknya mengingat kembali profesinya sebagai “kuli tinta”, yang seharusnya bisa bekerja total dan tidak mau enaknya saja. Karena yang sering terjadi adalah banyak wartawan mode yang terjebak dalam glamoritas dunia fashion ini dan lupa diri.

Advertisements

2 Responses to “Menguak Hidup Jurnalis Fashion Indonesia”

  1. Alex September 3, 2010 at 5:57 am #

    bisa nonton filmnya dimana nih?

    • avantianggia September 3, 2010 at 2:18 pm #

      Kalo gak salah di TIM bakal diputer filmnya, lex 😀 Coba cari info aja. Kalo gak salah (lagi) sabtu atau minggu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: